Hubungan Tanpa Status (HTS): Memahami Fenomena Relasi Modern dari Perspektif Ilmiah

SMarta Cerestia
98 Views 1 week ago
Ukuran 100%

sikoracerestia.com - Istilah Hubungan Tanpa Status yang lebih populer disingkat HTS telah menjadi bagian dari kosakata sehari-hari anak muda Indonesia, khususnya di kalangan remaja dan emerging adulthood (dewasa muda berusia 18-25 tahun). Secara akademis, HTS didefinisikan sebagai kondisi dalam relasi pertemanan lawan jenis yang mengandung unsur romantis tanpa disertai identitas hubungan yang jelas, sebagaimana dijelaskan dalam riset skripsi psikologi Universitas Gadjah Mada (Hanifah & Minza, 2024). Fenomena ini bukan eksklusif milik Indonesia di ranah akademik internasional, kondisi serupa dikenal dengan istilah situationship, yang menurut riset dari Partners Universal International Innovation Journal (George, 2024) ditandai oleh absennya label relasional yang jelas, kontak yang tidak teratur, pengetahuan yang dangkal antarpasangan, serta ketidakmampuan untuk berkembang menuju komitmen ataupun mengakhiri hubungan secara tegas. Survei yang dikutip dalam jurnal tersebut bahkan menemukan bahwa hampir 50 persen dewasa muda usia 18-29 tahun pernah terlibat dalam situationship, dengan mayoritas melaporkan dampak emosional negatif ketika hubungan tersebut akhirnya berakhir.

Menariknya, penelitian fenomenologi yang dilakukan terhadap mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (Hanifah & Minza, 2024) menemukan bahwa HTS justru dimaknai secara cukup positif oleh sebagian pelakunya. Studi tersebut mengidentifikasi empat makna utama yang melekat pada HTS: sebagai hubungan yang penuh ambiguitas, sebagai sumber dukungan emosional, sebagai relasi yang fleksibel tanpa komitmen dan kekangan, serta sebagai relasi yang dianggap normal untuk dijalani. Penelitian ini juga menemukan bahwa HTS menjadi pilihan strategis bagi mahasiswa untuk menjalin hubungan romantis tanpa merusak pertemanan yang sudah terbangun sebelumnya sebuah pertimbangan praktis yang masuk akal mengingat risiko sosial yang lebih tinggi ketika hubungan formal berakhir dengan buruk. Senada dengan ini, penelitian dari STIT Sifa Bogor (2025) tentang HTS pada konteks mahasiswa menemukan bahwa hubungan tanpa status dan tanpa kontak fisik berpotensi berperan sebagai support system yang membantu mahasiswa mengelola stabilitas mental, khususnya dalam menurunkan tingkat stres akademik mengingat sekitar 70 persen mahasiswa dilaporkan mengalami stres akibat beban akademis yang berat (Fadilla et al., 2024, dalam jurnal tersebut).

Di sisi lain, sejumlah penelitian dengan tegas mengungkap risiko psikologis serius dari fenomena ini. Sebuah artikel ilmiah populer yang merujuk pada Journal of Social and Personal Relationships menyebutkan bahwa individu yang berada dalam hubungan tanpa status lebih rentan mengalami gejala depresi dibandingkan mereka yang berada dalam hubungan dengan komitmen yang jelas, karena ketidakpastian status hubungan dapat menyebabkan stres kronis yang memengaruhi kesejahteraan mental seseorang. Psikolog klinis Dr. Lisa Firestone bahkan menjelaskan bahwa HTS bisa menyebabkan ketidakstabilan emosional karena hubungan jenis ini tidak memiliki kepastian atau tujuan jangka panjang yang jelas. Penelitian fenomenologi dari Jurnal Keperawatan Jiwa Universitas Muhammadiyah Semarang (Alexander dkk., 2025) juga menegaskan bahwa individu yang menjalani HTS sering kali menghadapi dilema mendalam antara kebebasan emosional di satu sisi dan ketidakjelasan komitmen di sisi lain sebuah pertarungan psikologis yang tidak ringan untuk dijalani dalam jangka waktu lama.

Salah satu dinamika paling khas dalam HTS adalah ketimpangan investasi emosional antara kedua pihak yang terlibat. Artikel psikologi dari Click2Pro (2025) menjelaskan bahwa dalam hubungan yang sehat, pemberian dan penerimaan emosional cenderung seimbang, namun dalam situationship, keseimbangan itu sering kali bergeser semakin satu pihak berinvestasi secara emosional, semakin pihak lainnya justru menarik diri. Pola ini menciptakan lingkaran kelelahan emosional yang berkelanjutan: pihak yang cemas (anxious) terus berusaha lebih keras untuk mendapatkan kejelasan, sementara pihak yang menghindar (avoidant) secara tidak sadar menafsirkan upaya tersebut sebagai tekanan. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa ketidakpastian relasional yang kronis telah dikaitkan dengan peningkatan kadar hormon stres, gangguan tidur, dan penurunan harga diri, terutama pada dewasa muda yang menjalani relasi di era digital. Teori kelekatan (attachment theory) menjadi kerangka penting untuk memahami fenomena ini riset dari Medium Psychologs Magazine (2025) menjelaskan bahwa individu dengan gaya kelekatan aman (secure attachment) cenderung lebih cepat mencari kejelasan dan lebih mungkin meninggalkan situationship yang tidak memenuhi kebutuhan mereka, dibandingkan individu dengan kelekatan cemas atau menghindar yang justru lebih rentan terjebak berlama-lama dalam ambiguitas tersebut.

pembentukan identitas diri, khususnya pada remaja yang secara psikologis masih dalam tahap pencarian jati diri. Penelitian yang dipublikasikan dalam Maliki Interdisciplinary Journal UIN Malang (Sholehah, 2026) secara spesifik mengkaji pengaruh hubungan tanpa status terhadap pembentukan identitas diri remaja, mengingat masa remaja merupakan periode krusial dalam perkembangan psikososial menurut teori Erik Erikson periode di mana individu seharusnya mengeksplorasi dan mengonsolidasikan siapa dirinya, termasuk dalam konteks relasi romantis. Ketika relasi yang dijalani justru berada dalam kondisi ambigu dan tanpa label yang jelas, proses pembentukan identitas peran sosial dan romantis remaja berpotensi mengalami kebingungan, karena mereka tidak memiliki kerangka rujukan yang jelas untuk memahami posisi dan peran mereka dalam hubungan tersebut. Kondisi ini selaras dengan konsep "doing gender" yang dikemukakan oleh West dan Zimmerman (1987, dalam Hanifah & Minza, 2024), yang menjelaskan bagaimana individu terus-menerus mengonstruksi dan menegosiasikan peran gender mereka dalam interaksi sosial sebuah proses yang menjadi lebih kompleks ketika status hubungan itu sendiri tidak terdefinisi.

Salah satu tantangan psikologis paling umum dalam HTS adalah munculnya rasa cemburu tanpa kerangka norma yang jelas untuk menyikapinya. Artikel populer dari Retizen Republika (Syahputra, 2023) yang turut menjadi rujukan dalam berbagai jurnal akademik mengenai HTS mengangkat pertanyaan mendasar: wajarkah cemburu muncul dalam hubungan yang secara formal tidak memiliki status apa pun? Tanpa adanya kesepakatan eksplisit mengenai eksklusivitas, batasan perilaku, atau ekspektasi bersama, kedua pihak dalam HTS sering kali beroperasi dengan asumsi yang berbeda-beda mengenai apa yang "boleh" dan "tidak boleh" dilakukan sebuah kondisi yang dalam riset Hanifah dan Minza (2024) secara eksplisit dikonfirmasi sebagai salah satu karakteristik utama HTS: adanya manfaat eksklusif dalam hubungan romantis, namun tanpa kejelasan batasan-batasan berperilaku. Ketidakjelasan inilah yang sering menjadi sumber konflik, kesalahpahaman, dan luka emosional yang sebenarnya bisa dihindari apabila kedua belah pihak memiliki kejelasan status hubungan sejak awal.

Fenomena HTS juga perlu dipahami dalam konteks pergeseran budaya pacaran yang lebih luas, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z. Penelitian Vianey (2018, dalam berbagai jurnal HTS Indonesia) tentang pandangan generasi milenial terhadap dinamika hubungan friends with benefits varian relasi yang berkaitan erat dengan HTS menunjukkan adanya pergeseran norma sosial mengenai bagaimana hubungan romantis seharusnya dimulai dan dijalani. Studi etnografi dari Uganda yang dipublikasikan di PLOS ONE (Choudhry et al., 2022) bahkan menggunakan istilah serupa, menyebut relasi semacam ini sebagai "situationships" dalam konteks hubungan seksual di lingkungan kampus, menunjukkan bahwa fenomena relasi tanpa status bukan semata produk budaya digital Indonesia, melainkan pola global yang muncul seiring perubahan norma seksualitas dan relasi romantis di kalangan dewasa muda lintas negara. Riset model investasi (Investment Model) dari Tran, Judge, dan Kashima (2019) turut relevan di sini, menjelaskan bahwa tingkat komitmen dalam suatu hubungan sangat dipengaruhi oleh kepuasan, kualitas alternatif yang tersedia, dan besarnya investasi yang telah ditanamkan sebuah kerangka yang dapat menjelaskan mengapa sebagian individu memilih tetap bertahan dalam HTS meski menyadari ketidakjelasannya.

Pada akhirnya, kajian ilmiah menunjukkan bahwa HTS bukanlah fenomena yang bisa digeneralisasi sebagai "baik" atau "buruk" secara mutlak dampaknya sangat bergantung pada kejelasan ekspektasi, intensitas komunikasi, dan kesepahaman kedua belah pihak yang terlibat. Studi dari Jurnal Bhakti Sifa Bogor menyimpulkan bahwa efektivitas HTS sebagai sumber dukungan emosional sangat bergantung pada intensitas komunikasi dan kesepahaman bersama antara kedua pihak. Namun, ketika salah satu pihak menginginkan komitmen yang lebih serius sementara pihak lain enggan, atau ketika batasan perilaku tidak pernah didiskusikan secara terbuka, risiko terhadap kesehatan mental mulai dari kecemasan, stres kronis, hingga penurunan harga diri menjadi nyata dan signifikan secara ilmiah. Bagi siapa pun yang sedang menjalani atau mempertimbangkan HTS, kesadaran diri mengenai apa yang sebenarnya diinginkan, keberanian untuk mengomunikasikannya secara jujur kepada pihak lain, serta kemauan untuk mengevaluasi apakah hubungan tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan emosional masing-masing, menjadi kunci utama untuk menjalani relasi modern ini secara lebih sehat dan sadar.

Referensi

  • Hanifah, A. H., & Minza, W. M. (2024). Ambiguitas dalam Eksklusivitas: Makna Hubungan Tanpa Status dalam Relasi Pertemanan dengan Lawan Jenis. Skripsi, Fakultas Psikologi UGM. BACA
  • Kharisma, C. G., dkk. Persepsi Emerging Adulthood Tentang Hubungan Tanpa Status (HTS). EXPERIENTIA: Jurnal Psikologi Indonesia, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. BACA
  • Rejeki. Memahami Fenomena Komunikasi Hubungan Tanpa Status Pada Kalangan Remaja. Jurnal Mutakallimin: Jurnal Ilmu Komunikasi, UNISKA. BACA
  • Alexander, dkk. (2025). Dinamika Hubungan Tanpa Status: Antara Kebebasan Emosional dan Ketidakjelasan Komitmen. Jurnal Keperawatan Jiwa, Universitas Muhammadiyah Semarang. BACA
  • Sholehah, F. (2026). Pengaruh Hubungan Tanpa Status terhadap Pembentukan Identitas Diri Remaja. Maliki Interdisciplinary Journal, UIN Malang, 4(3), 237-242. BACA
  • Eksplorasi Hubungan Tanpa Status (HTS) dan Hubungan Tanpa Kontak Fisik sebagai Dukungan Emosional Mahasiswa. Jurnal Bhakti Sifa, STIT Sifa Bogor. BACA
  • George, A. S. (2024). Escaping the Situationship: Understanding and Addressing Modern Relationship Ambiguity Among Young Adults. Partners Universal International Innovation Journal, 2(3), 35-56. BACA
  • Psychology Behind Situationship. Medium - Psychologs Magazine. Baca Artikel
  • Situationships & Attachment Theory: Why We Stay Stuck. Click2Pro. Baca Artikel
  • Efek Psikologis dari Menjalani Hubungan Tanpa Status: Antara Kenyamanan dan Ketidakpastian. STIE STEKOM. Baca Artikel
  • Choudhry, V., Petterson, K. O., Emmelin, M., Muchunguzi, C., & Agardh, A. (2022). "Relationships on Campus are Situationships": A Grounded Theory Study of Sexual Relationships at a Ugandan University. PLOS ONE, 17(7). BACA
  • Syahputra, Y. (2023). Cemburu dalam Hubungan HTS, Wajarkah? Retizen Republika. BACA
  • Tran, P., Judge, M., & Kashima, Y. (2019). Commitment in Relationships: An Updated Meta-Analysis of the Investment Model. Personal Relationships, 26(1), 158-180. BACA
Bagikan:

Diskusi

Memuat komentar...

Avatar Guest SIKORA