Apa yang Terjadi pada Anak yang Tumbuh Tanpa Kehadiran Harian Sang Ayah?

Wibik R
146 Views 2 weeks ago
Ukuran 100%

sikoracerestia.com - Di banyak rumah tangga Indonesia, ada sebuah kenyataan yang seringkali tidak disadari: ayah hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional. Ia pulang kerja larut malam, akhir pekan dihabiskan untuk istirahat atau urusan lain, dan interaksi bermakna dengan anak nyaris tidak terjadi. Fenomena ini oleh para psikolog disebut sebagai fatherless sebuah kondisi di mana anak tumbuh tanpa keterlibatan aktif seorang ayah dalam proses pengasuhannya. Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2024, sekitar 15,9 juta anak di Indonesia berpotensi tumbuh tanpa peran ayah. Dari jumlah itu, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah, sementara 11,5 juta lainnya tinggal bersama ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu angka yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan krisis fatherless tertinggi di dunia.

Ayah Bukan Sekadar Pencari Nafkah

Salah satu akar masalah terbesar dari fenomena ini adalah persepsi budaya yang telah lama mengakar: bahwa tugas ayah hanyalah mencari nafkah, sementara urusan pengasuhan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu. Psikolog Zaki Nur Fahmawati, M.Psi dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menegaskan bahwa pandangan ini merupakan kesalahpahaman mendasar. Ia menjelaskan bahwa banyak pria yang merasa siap menjadi suami, tetapi tidak siap menjadi ayah seringkali karena mereka sendiri tidak memiliki contoh pengasuhan ayah yang baik sejak kecil. Padahal, Dr. Rahmat Hidayat, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan dengan tegas bahwa peran ayah dalam keluarga merupakan hal krusial dalam membentuk kepercayaan diri, nilai moral, hingga kecerdasan emosi seorang anak. Ayah, dalam ilmu psikologi perkembangan, adalah role model utama dalam tiga proses belajar anak: observasional, behavioral, dan kognitif ketiganya membutuhkan kehadiran fisik dan emosional ayah secara nyata.

Ayah Bukan Sekadar Pencari Nafkah

Salah satu akar masalah terbesar dari fenomena ini adalah persepsi budaya yang telah lama mengakar: bahwa tugas ayah hanyalah mencari nafkah, sementara urusan pengasuhan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu. Psikolog Zaki Nur Fahmawati, M.Psi dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menegaskan bahwa pandangan ini merupakan kesalahpahaman mendasar. Ia menjelaskan bahwa banyak pria yang merasa siap menjadi suami, tetapi tidak siap menjadi ayah seringkali karena mereka sendiri tidak memiliki contoh pengasuhan ayah yang baik sejak kecil. Padahal, Dr. Rahmat Hidayat, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan dengan tegas bahwa peran ayah dalam keluarga merupakan hal krusial dalam membentuk kepercayaan diri, nilai moral, hingga kecerdasan emosi seorang anak. Ayah, dalam ilmu psikologi perkembangan, adalah role model utama dalam tiga proses belajar anak: observasional, behavioral, dan kognitif ketiganya membutuhkan kehadiran fisik dan emosional ayah secara nyata.

Luka yang Tak Terlihat: Gangguan Emosi dan Kesehatan Mental

Dampak paling dalam dari ketidakhadiran ayah adalah pada kesehatan mental anak. Riset yang dipublikasikan dalam Journal of Lifestyle and SDGs Review (2025) menyimpulkan bahwa anak-anak dari keluarga tanpa keterlibatan ayah mengalami tingkat kecemasan, depresi, dan gangguan perilaku yang jauh lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang ayahnya terlibat aktif. Lebih lanjut, penelitian Goleman (dalam Wulandari, 2023) menunjukkan bahwa anak-anak yang hidup tanpa ayah mengalami permasalahan psikologis seperti depresi, penurunan nilai akademik, dan sejumlah masalah berkaitan dengan pergaulan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat juga mengungkapkan bahwa anak yang dibesarkan tanpa orang tua yang lengkap berisiko terkena penyakit psikosomatik seperti asma, sakit kepala, dan gangguan pencernaan bukti bahwa luka emosional akibat absennya ayah tidak hanya berdampak pada jiwa, tetapi juga pada fisik anak.

Krisis Identitas: Dampak Berbeda pada Anak Laki-laki dan Perempuan

Ketidakhadiran ayah memiliki dampak yang berbeda namun sama-sama berat pada anak laki-laki maupun perempuan. Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Kajian Hukum dan Kebijakan Publik (2024) menemukan bahwa anak laki-laki yang tumbuh tanpa figur ayah cenderung mengalami krisis identitas maskulinitas dan kesulitan memahami peran gendernya. Hal ini diperparah oleh temuan Biller (1974, dalam Wulandari, 2023) yang menyatakan bahwa kondisi fatherless melahirkan kebingungan identitas gender yang dapat berujung pada penyimpangan orientasi seksual. Sementara itu, bagi anak perempuan, dampaknya tidak kalah serius. Penelitian fenomenologi yang dipublikasikan dalam Edu Sociata: Jurnal Pendidikan Sosiologi (2025) menunjukkan bahwa ketidakhadiran ayah berkontribusi pada terbentuknya krisis identitas, ketidakpercayaan terhadap laki-laki, serta kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi hingga dewasa. Sosok maskulin ayah adalah cermin pertama bagi anak perempuan untuk menegaskan identitas dirinya dan membangun citra diri yang positif.

Prestasi Akademik yang Terhambat

Dampak dari absennya ayah tidak berhenti di ranah emosional ia juga merambah ke ruang kelas. Riset yang diterbitkan dalam American Scientific Research Journal for Engineering, Technology, and Sciences (ASRJETS, 2018) menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal bersama kedua orang tua secara konsisten mendapatkan skor lebih tinggi pada tes membaca dan kemampuan akademis lainnya dibandingkan anak-anak dari keluarga tanpa ayah, terlepas dari usia anak saat ayah mulai absen. Penelitian internasional di Journal of Lifestyle and SDGs Review (2025) mempertegas hal ini dengan menemukan bahwa anak dari keluarga father-absent menunjukkan performa sekolah yang lebih rendah dan keterlibatan yang berkurang di bidang sains dan teknologi. Masalah emosional yang mereka tanggung rasa cemas, rendah diri, kurang motivasi secara langsung memperlemah konsentrasi dan ketekunan belajar. Di tingkat yang lebih parah, anak-anak ini lebih berisiko putus sekolah dan tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi.

Perilaku Sosial dan Risiko Kenakalan Remaja

Seorang ayah yang hadir setiap hari mengajarkan kedisiplinan, cara mengelola emosi, dan bagaimana berinteraksi secara sehat dengan orang lain. Ketika figur ini absen, anak kehilangan panduan paling dasar dalam kehidupan sosialnya. Penelitian yang dimuat dalam Journal of Global Scholars (2024) menemukan bahwa anak-anak fatherless lebih rentan terhadap perilaku agresif dan kenakalan, karena tanpa bimbingan figur ayah, mereka kesulitan memahami batasan dan konsekuensi dari tindakan mereka. Dr. Rahmat Hidayat dari UGM menjelaskan bahwa ketidakhadiran ayah secara emosional maupun fisik menyebabkan anak kehilangan model perilaku utama dalam hal pengendalian diri, kedisiplinan, interaksi sosial, serta sikap bertanggung jawab. Studi yang menganalisis data nasional Amerika Serikat yang dipublikasikan di Scholarly Commons - University of the Pacific (2025) menemukan bahwa anak yang tumbuh dengan ayah yang hadir dan terlibat menunjukkan perilaku sosial yang jauh lebih baik, memiliki tujuan hidup yang lebih terarah, dan stabilitas emosi yang lebih kuat.

Luka yang Dibawa hingga Dewasa

Dampak tumbuh tanpa interaksi harian bersama ayah tidak berhenti saat anak memasuki usia dewasa justru seringkali barulah terasa dampaknya secara penuh. Anak yang dibesarkan tanpa keterlibatan ayah cenderung lebih rentan secara finansial di masa dewasanya, dengan risiko lebih tinggi menjadi pengangguran, memiliki pendapatan rendah, bahkan mengalami kondisi tunawisma. Secara relasional, perempuan yang tumbuh tanpa figur ayah seringkali membawa pola kecemasan dalam hubungan romantisnya, kesulitan mempercayai pasangan, atau justru mencari sosok pengganti ayah dalam relasi yang tidak sehat. Sementara pada laki-laki, krisis identitas yang tidak terselesaikan dapat mendorong perilaku berisiko dan kesulitan membangun relasi yang stabil. Riset Kesebonye & Amone-P'Olak (2020, dalam IJRISS) menegaskan bahwa absennya figur ayah memengaruhi kesejahteraan emosional, prestasi akademis, perilaku sosial, dan pembentukan identitas diri anak secara menyeluruh sebuah dampak lintas dimensi yang terus bergulir melampaui masa kanak-kanak.

Apa yang Bisa Dilakukan? Kehadiran Adalah Kuncinya

Kabar baiknya, riset juga membuktikan bahwa dampak fatherless bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Kuncinya sederhana namun tidak mudah: kehadiran yang nyata dan konsisten. Psikolog UMSIDA menekankan bahwa solusi paling mendasar adalah meningkatkan kesadaran para ayah bahwa keterlibatan mereka dalam pengasuhan bukan pilihan, melainkan kebutuhan dasar anak. Komunitas dan lingkungan sosial juga berperan penting program mentoring, keterlibatan figur laki-laki dewasa yang positif (paman, kakek, guru), serta dukungan kelompok sebaya dapat membantu mengisi kekosongan yang ditinggalkan. Bagi para ayah yang sibuk bekerja, kualitas interaksi harian jauh lebih bermakna daripada sekadar durasi kehadiran fisik: makan malam bersama, bermain sebentar sebelum tidur, atau sekadar bertanya "hari ini bagaimana?" dengan sungguh-sungguh hal-hal kecil itu mengirimkan pesan terkuat yang pernah seorang anak butuhkan: Aku ada untukmu.

Referensi:

Susenas BPS (2024) & Dr. Rahmat Hidayat, Psikolog UGM – Data 15,9 Juta Anak Fatherless di Indonesia. Tribun Jogja, Oktober 2025. https://jogja.tribunnews.com/diy/1196708/159-juta-anak-tanpa-pengasuhan-ayah-psikolog-ugm-sebut-dampak-tumbuh-kembang-anak

Zaki Nur Fahmawati, M.Psi – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Fenomena Fatherless di Indonesia: Dampak Ketidakhadiran Ayah dalam Pengasuhan dan Solusi Pencegahan. https://fpip.umsida.ac.id/ayah-dalam-pengasuhan-dan-solusi-pencegahan/

Wulandari et al. (2023). Peran Ayah (Fathering) dalam Pengasuhan. Jurnal Ilmiah Universitas Pasifik. https://ejournal.unipas.ac.id/index.php/DW/article/viewFile/2016/1175

Dampak Fatherless terhadap Perkembangan Anak – Kajian Literatur. Jurnal Mahasiswa Ilmu Administrasi (JMIA), Kampus Akademik. https://ejurnal.kampusakademik.co.id/index.php/jmia/article/download/5136/4481

Dampak Tidak Adanya Peran Ayah terhadap Perkembangan Psikologis, Emosional, dan Sosial Anak. Jurnal Kajian Hukum dan Kebijakan Publik, Vol. 02 No. 01 (2024). https://jurnal.kopusindo.com/index.php/jkhkp/article/download/359/380/1102

Dampak Fatherless terhadap Perempuan Dewasa Awal. Edu Sociata: Jurnal Pendidikan Sosiologi, STKIP Bima (2025). https://jurnal.stkipbima.ac.id/index.php/ES/article/view/3327

Review of the Research Literature on the Impact of Father Absence on Child Development in Alignment with SDGs. Journal of Lifestyle and SDGs Review (2025). https://sdgsreview.org/LifestyleJournal/article/view/6117

Effects of Father Absence on Children's Academic Performance. American Scientific Research Journal for Engineering, Technology, and Sciences / ASRJETS (2018). https://asrjetsjournal.org/American_Scientific_Journal/article/download/4341/1535/12891

Kesebonye & Amone-P'Olak (2020) – Exploring the Impact of Absent Fathers on Children. International Journal of Research and Innovation in Social Science (IJRISS). https://rsisinternational.org/journals/ijriss/articles/exploring-the-impact-of-absent-fathers-on-children-lived-experiences-of-students-in-two-secondary-schools-in-the-leribe-district-lesotho/

The Effect of Fatherless on Children Social Development. Journal of Global Scholars (2024). https://journal.scidacplus.com/index.php/jgs/article/download/516/221/1603

Bagikan:

Diskusi

Memuat komentar...

Avatar Guest SIKORA