Sejarah Pemungkiman Belanda di Surabaya

Wibik R
108 Views 1 month ago
Ukuran 100%

sikoracerestia.com - SURABAYA Ada sebuah fakta tentang Surabaya yang jarang diketahui banyak orang: kota ini pernah memiliki dua wajah yang sangat berbeda, dan batas pemisahnya adalah sebuah sungai. Di sisi timur Sungai Kali Mas, bermukim kaum vreemde oosterlingen atau warga asing timur yang berasal dari berbagai penjuru Asia. Sementara di sisi barat sungai yang sama, berdiri bangunan-bangunan megah bergaya Eropa yang menjadi tempat tinggal orang-orang Belanda dan Eropa lainnya selama era kolonial Hindia Belanda berlangsung. Dua dunia, satu kota, satu sungai sebagai batasnya. Dan kisah tentang pembagian kota yang pernah membentuk wajah Surabaya hingga hari ini itu tersimpan dengan sangat baik di sebuah tempat yang mungkin sudah sering kamu lewati tanpa pernah masuk ke dalamnya: Museum Surabaya di Gedung SIOLA, Jalan Tunjungan.

Foto di panel museum yang terekam dalam gambar menyingkap sepenggal cerita yang tidak sederhana. Saat aktivitas produksi gula, tebu, dan tembakau semakin meningkat di era Hindia Belanda, Surabaya bertransformasi dari kota pelabuhan biasa menjadi pusat produksi, distribusi, dan perdagangan skala besar yang diatur dalam sebuah sistem perkotaan yang terencana. Dari sinilah lahir dua sebutan yang membagi Surabaya secara fisik dan sosial sekaligus: Beneden Stad atau kota bawah, yang menjadi pusat bisnis dan perdagangan di sekitar kawasan Jembatan Merah, serta Boven Stad atau kota atas, yang menjadi kawasan hunian eksklusif bagi para personel Eropa di daerah seperti Gubeng, Darmo, dan Ketabang. Dua nama kota dalam satu kota dan jejaknya masih bisa kamu rasakan hingga hari ini jika kamu tahu di mana harus melihatnya. Namun untuk benar-benar memahami bagaimana sistem itu bekerja, bagaimana dua dunia itu hidup berdampingan, dan bagaimana semuanya akhirnya runtuh, kamu perlu datang dan melihat sendiri pamerannya secara langsung.

Yang membuat kunjungan ke Museum Surabaya ini terasa berlapis adalah gedungnya sendiri.Gedung SIOLA didirikan pada tahun 1877 oleh Robert Laidlaw, seorang pengusaha asal Inggris, dan difungsikan sebagai pusat perdagangan dan bisnis yang pertama kali dibuka pada Maret 1923 dengan nama Whiteaway Laidlaw Pada masa kejayaannya, gedung ini menjadi tongkrongan orang-orang kelas menengah ke atas, terutama warga keturunan Belanda dan bangsawan di Surabaya, karena menjual berbagai barang yang diimpor dari Inggris dan Eropa. Artinya, saat kamu berdiri di dalam museum ini dan membaca tentang permukiman Eropa di Surabaya, kamu sedang berdiri di dalam bangunan yang dulunya adalah jantung gaya hidup Eropa itu sendiri. Bahkan pada pertempuran 10 November 1945, gedung SIOLA ini dijadikan tempat bagi para pejuang kemerdekaan untuk menyusun strategi perang sebuah lapisan sejarah perlawanan yang menambah kedalaman makna setiap sudut bangunannya.

Jangan bayangkan Museum Surabaya sebagai ruang gelap yang membosankan dengan koleksi berdebu. Museum ini menyimpan lebih dari 1.000 koleksi benda dan foto yang menceritakan sejarah Kota Pahlawan, termasuk dokumen berbahasa Belanda dan arsip kependudukan dari masa pemerintahan Hindia Belanda sejak tahun 1837. Ada kisah tentang Kampung Pecinan, Kampung Arab, kawasan permukiman Eropa, lokomotif uap dari tahun 1930, piano milik musisi legendaris Gombloh, replika biola WR. Supratman, hingga baju dinas pemadam kebakaran era kolonial yang tersimpan di sini. Transformasi Surabaya menjadi kota pelabuhan bahkan ditampilkan melalui sorotan proyektor yang memukau sebuah pengalaman visual yang sulit dilupakan. Dan yang terbaik dari semua ini? Untuk berkunjung ke museum ini, pengunjung tidak dipungut biaya sepeserpun.

Panel pameran tentang Permukiman Eropa di Surabaya yang terekam dalam foto ini hanyalah satu dari sekian banyak lembar cerita yang menunggu untuk dibaca di museum ini. Ada lapisan-lapisan sejarah yang tidak bisa diringkas dalam satu artikel, tidak bisa ditangkap dalam satu foto, dan tidak akan terasa nyata jika hanya dibaca dari layar. Siapa sebenarnya para vreemde oosterlingen yang bermukim di timur Kali Mas, dan bagaimana kehidupan mereka berbanding dengan orang-orang Eropa di sisi barat? Seperti apa bentuk bangunan Boven Stad yang membuat kawasan Gubeng dan Darmo terasa berbeda hingga hari ini? Mengapa sistem kota yang begitu terstruktur akhirnya runtuh, dan apa yang tersisa darinya di Surabaya modern? Semua itu ada jawabannya dan semua jawabannya menunggu kamu di Jalan Tunjungan Nomor 1.

Museum Surabaya berada di lantai pertama Gedung SIOLA yang kini berfungsi sebagai Mal Pelayanan Publik di Jalan Tunjungan Nomor 1, Genteng, Surabaya. Gedung ini sangat mudah dijangkau karena berada di jantung Kota Surabaya, dekat dengan kawasan wisata sejarah lainnya seperti Jembatan Merah dan koridor Jalan Tunjungan yang ikonik. Museum buka setiap hari kerja. Bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah Surabaya lebih dalam baik warga lokal maupun pendatang museum ini adalah titik awal yang paling tepat untuk memulai perjalanan di Jalan Tunjungan.

Bagikan:

Diskusi

Memuat komentar...

Avatar Guest SIKORA