Flobamora: Arti, Asal Usul, dan Mengapa NTT Disebut Bumi Flobamora

Wibik R
25 Views 11 hours ago
Ukuran 100%

sikoracerestia.com - Bagi siapa pun yang pernah bersentuhan dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur, baik sebagai warga asli, perantau, maupun wisatawan, kata Flobamora tentu bukan sesuatu yang asing. Kata itu terdengar di lagu-lagu daerah, tertulis di papan-papan selamat datang, diucapkan dalam pidato-pidato resmi, bahkan menjadi nama sebuah pusat perbelanjaan di Kota Kupang. Namun tidak semua orang tahu dari mana kata itu berasal, apa sebenarnya maknanya, dan mengapa sebuah provinsi dengan ribuan pulau dan ratusan suku bangsa memilih satu kata itu sebagai identitas pemersatunya. Artikel ini mengurai kisah di balik kata yang telah menjadi jiwa dari Nusa Tenggara Timur.

Flobamora Adalah Sebuah Akronim

Secara harfiah, Flobamora bukanlah sebuah kata dalam bahasa daerah mana pun di NTT. Ia adalah sebuah akronim yang dibentuk dari nama-nama gugusan pulau utama di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam penggunaan yang paling umum dan paling sering dirujuk, Flobamora merupakan kepanjangan dari Flores, Sumba, Timor, dan Alor, yakni empat gugusan pulau besar yang menjadi tulang punggung geografis provinsi ini. Karena itulah kata Flobamora terbentuk: Flo dari Flores, Ba dari Sumba, Mo dari Timor, dan Ra dari Alor. Namun perlu dicatat bahwa terdapat beberapa versi penggunaan akronim ini yang beredar di masyarakat. Sumber dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan versi yang lebih ringkas yaitu Flores, Sumba, dan Timor tanpa Alor, sementara sumber dari Localise SDGs Indonesia dan Kompasiana menyebut versi yang lebih panjang yaitu Flobamorata, akronim dari Flores, Sumba, Timor, Rote, Alor, dan Lembata, yang mencakup lebih banyak pulau besar dalam satu kesatuan nama. Keberagaman versi ini sejatinya mencerminkan betapa luasnya wilayah NTT yang terdiri dari 1.192 pulau, di mana tidak semua pulau bisa tercakup dalam satu akronim yang ringkas.

El Tari: Sang Pencetus yang Menyatukan dalam Satu Nama

Di balik popularitas kata Flobamora, ada sebuah nama besar yang sering dikaitkan sebagai sosok yang mempopulerkan dan mencetuskan akronim ini sebagai identitas pemersatu NTT. Ia adalah Mayor Jenderal TNI Anumerta Elias Tari, yang lebih dikenal dengan nama El Tari, Gubernur kedua NTT yang menjabat sejak 12 Juli 1966 hingga wafat pada 29 April 1978. Dalam sebuah tulisan di Kompasiana yang merekam warisan intelektual El Tari, disebutkan bahwa akronim Flobamora atau Flobamorata yang ia cetuskan sebagai pemersatu wilayah-wilayah di NTT adalah sebuah metafora yang hidup selama-lamanya dan tak terbantahkan. El Tari bukan sekadar gubernur yang mengelola administrasi, melainkan seorang pemimpin visioner yang memahami secara mendalam kondisi topografis dan kultural masyarakat NTT. Ia menyadari bahwa provinsi yang baru terbentuk pada 20 Desember 1958 berdasarkan Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 ini terdiri dari puluhan suku, ratusan bahasa, dan ribuan pulau yang berpotensi terpecah jika tidak dipersatukan oleh sebuah identitas bersama yang kuat. Flobamora adalah jawaban El Tari atas tantangan itu: satu kata yang merangkul semua, menyatukan yang berbeda-beda tanpa menghapus kekhasan masing-masing.

NTT: Provinsi Kepulauan dengan Keberagaman yang Luar Biasa

Untuk benar-benar memahami mengapa identitas seperti Flobamora sangat diperlukan, perlu dipahami betapa kompleks dan beragamnya wilayah NTT. Provinsi ini secara resmi berdiri sejak 20 Desember 1958 dan kini memiliki populasi sekitar 5,74 juta jiwa yang tersebar di 22 kabupaten dan kota. NTT terdiri dari 1.192 pulau yang sebagian besar tidak berpenghuni, dengan lima pulau besar sebagai pilar utamanya yaitu Flores, Sumba, Timor Barat, Alor, dan Lembata. Dari sisi etnis, NTT dihuni oleh setidaknya 22 kelompok suku besar dengan Atoni sebagai yang terbesar mencapai 22 persen, diikuti Manggarai 15 persen, Sumba 12 persen, Tetun 9 persen, Lamaholot 8 persen, Rote 5 persen, dan suku-suku lainnya. Bahasa daerah yang digunakan meliputi Kupang Malay sebagai lingua franca, serta puluhan bahasa lokal lainnya seperti Alorese, Lamaholot, Sikka, Tetun, Uab Meto, Rotenese, dan banyak lagi. Dengan keanekaragaman yang sedemikian luar biasa, sebuah nama pemersatu bukan sekadar simbol, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial yang menegaskan bahwa di balik semua perbedaan, ada satu identitas yang merangkul semua: Flobamora.

Dari Nama Geografis Menjadi Simbol Persatuan

Yang membuat Flobamora istimewa bukan sekadar fungsinya sebagai akronim geografis, melainkan transformasinya menjadi simbol persatuan yang hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat NTT. Dalam sebuah pernyataan yang dikutip ANTARA News, tokoh politik NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menegaskan bahwa wilayah NTT sudah disatukan dalam nama Flobamora sebagai sebutan untuk tiga pulau besar di NTT yaitu Flores, Sumba, dan Timor, dan karena itulah ia berpendapat NTT tidak boleh dimekarkan menjadi dua provinsi terpisah. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Flobamora bukan hanya nama, melainkan argumen politik, alasan historis, dan semen budaya yang mengikat identitas provinsi ini menjadi satu kesatuan yang tidak terbantahkan. Gugusan kepulauan Flobamora, dalam konteks administrasi wilayah pemerintahan dan geopolitik Indonesia sejak tahun 1958, disatukan dalam satu daerah provinsi yang dikenal sebagai Nusa Tenggara Timur, sebuah fakta yang menunjukkan bahwa nama Flobamora dan nama NTT adalah dua sisi dari koin yang sama.

Lagu Flobamora: Ketika Nama Menjadi Nyanyian Rindu

Flobamora tidak hanya hidup sebagai konsep geografis atau identitas politik, tetapi juga telah menjelma menjadi salah satu lagu daerah paling fenomenal dan paling dikenal dari seluruh Indonesia. Lagu berjudul Flobamora merupakan salah satu lagu daerah khas NTT yang telah menjadi lagu kebanggaan masyarakat NTT di mana pun mereka berada. Lagu ini menceritakan kerinduan seorang perantau yang jauh dari tanah kelahirannya, Flobamora, yang merasakan rindu yang mendalam akan keluarga, teman, dan suasana kampung halaman, serta berjanji untuk selalu mengingat dan kembali ke NTT. Lirik lagu ini menggunakan campuran Bahasa Indonesia dan bahasa daerah NTT, salah satunya menampilkan gambaran tentang anak Timor yang memainkan Sesandu atau Sasando, alat musik petik tradisional dari Pulau Rote yang telah menjadi ikon kebanggaan seluruh Flobamora. Menariknya, sebuah catatan dari betaMesa menyebut bahwa pilihan lirik tersebut secara sengaja menggambarkan bagaimana Sasando yang berasal dari Rote sudah menyebar dan menjadi milik seluruh masyarakat Flobamora, bukan sekadar milik orang Rote semata, sebuah pesan kecil namun dalam tentang budaya yang melampaui batas-batas suku dan pulau.

Flobamora dalam Kehidupan Sehari-hari Masyarakat NTT

Hari ini, kata Flobamora telah meresap jauh ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat NTT di berbagai dimensi. Ia muncul sebagai nama pusat perbelanjaan terbesar di Kota Kupang yaitu Flobamora Mall, sebagai nama komunitas-komunitas diaspora NTT di berbagai kota besar Indonesia dan di luar negeri, sebagai tagar yang digunakan oleh generasi muda NTT di media sosial untuk mengekspresikan kebanggaan akan identitas mereka, dan sebagai frasa yang selalu hadir dalam acara-acara budaya, festival adat, pertemuan perantau, serta upacara resmi pemerintahan provinsi. Identitas budaya Flobamora juga tercermin dalam kekayaan produk-produk lokal yang menjadi kebanggaan provinsi ini: kain tenun ikat yang setiap motifnya menyimpan filosofi mendalam, alat musik Sasando yang kini dikenal dunia, berbagai tarian adat dari masing-masing pulau, serta kuliner khas yang mencerminkan kearifan lokal setiap daerah. Semua keragaman itu, dalam pandangan masyarakat NTT, bukanlah sesuatu yang memecah belah, melainkan justru kekayaan yang memperkaya satu identitas bersama bernama Flobamora.

Flobamora: Lebih dari Sekadar Nama

Pada akhirnya, Flobamora bukan sekadar akronim geografis yang lahir dari kreativitas seorang gubernur. Ia adalah sebuah janji kolektif bahwa ribuan pulau, ratusan suku, dan jutaan manusia yang tinggal di tenggara Indonesia ini memilih untuk bersatu dalam satu nama dan satu identitas, meski dengan segala perbedaan yang ada. Sebagaimana akronim Flobamorata yang dicetuskan El Tari disebut sebagai sebuah metafora yang hidup selama-lamanya, Flobamora terus membuktikan relevansinya dari generasi ke generasi: dari para pendiri provinsi yang merumuskannya sebagai identitas pemersatu pada 1958, kepada para perantau yang menyanyikannya dengan mata berkaca-kaca di tanah rantau, hingga kepada generasi muda NTT masa kini yang menuliskannya dengan bangga di caption media sosial mereka sebagai tanda bahwa mereka adalah bagian dari tanah yang kaya, kuat, dan penuh kebanggaan, Bumi Flobamora.

Sumber & Referensi

  1. Lirik dan Makna Lagu Flobamora, Lagu Daerah dari Nusa Tenggara Timur. Kompas.com, 17 Desember 2022. Baca Berita
  2. Nusa Tenggara Timur. Wikipedia Bahasa Indonesia. Baca Artikel
  3. East Nusa Tenggara. Wikipedia (Bahasa Inggris). Baca Artikel
  4. Jangan Mekarkan Nusa Tenggara Timur. ANTARA News. Baca Berita
  5. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Localise SDGs Indonesia. Baca Artikel
  6. Flobamora di Nusa Tenggara Timur. Repositori Kemendikdasmen RI. Baca Buku
  7. Mengapa Nusa Tenggara Timur Dikenal dengan Bumi Flobamora? Brainly.co.id. Baca Artikel
  8. Pustaka El Tari dan Nyanyian Flobamora. Kompasiana. Baca Artikel
  9. El Tari dan Imaji Masa Depan NTT. Kompasiana. Baca Artikel
  10. Sejarah Hari Ini (20 Desember 1958): Nusa Tenggara Timur Jadi Provinsi. Good News From Indonesia. Baca Berita
  11. Daftar Nama dan Profil Gubernur NTT dari Masa ke Masa. Detik.com. Baca Berita
  12. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kompas.id. Baca Artikel
  13. Tentang Lagu Flobamora. BetaMesa Blog. Baca Artikel
  14. 7 Lagu Daerah NTT Lengkap dengan Lirik dan Maknanya. Mawatu.co.id. Baca Artikel
  15. Mengenal Flobamora: Arti, Asal Usul, dan Keanekaragaman Budaya NTT. Lemon8 App. Baca Artikel
Bagikan:

Diskusi

Memuat komentar...

Avatar Guest SIKORA